Jumat, 03 Februari 2012
Naskah-Naskah TEATER FATARIA
TEATER FATARIA dalam proses penggarapan teaternya kebanyakan menggunakan Naskah-Naskah yang ditulis oleh anggota-anggotanya sendiri, dalam proses penggarapan Teater Teater Fataria memang jarang menggunakan Naskah-Naskah yang sudah ada atau Naskah yang ditulis oleh Orang lain, tapi bukan berarti tidak pernah mementaskan Naskah Orang lain. Hal ini karena Teater Fataria lebih ingin Memaksimal Potensi Kader-kadernya Agar tetap berusaha menulis Naskah yang ditulis sendiri. Dalam Pembuatan Naskah-naskah yang ditulis oleh anggota-anggotanya tidak lepas dari Kajian RUTINITAS Tentang Pembuatan NASKAH agar supaya naskah yang ditulis tidak asal-asalan & tidak memuat makna di dalamnya, karena kami bertujuan agar Naskah-Naskah yang ditulis memuat ide-ide kreatif, temuan-temuan Konflik yang terjadi disekitar dengan Referensi yang ada sehingga memberikan ruang APRESIASI KREATIF kepada Audien & para Penikmat seni.
Adapun NASKAH-NASKAH TEATER DIBAWAH INI merupakan naskah-naskah yang ditulis oleh beberapa anggota teater fataria :
1. Naskah "PENGEMBARA ANASIR" ditulis : Mulyadi CHINGHONG
Pengembara cinta yang berlumut di samudra berlayar dengan kapal Kencana utuk menyingkap tabir-tabir raksasa pada diri manusia dengan perenungan anashir (unsur-unsur manusia), sekaligus memperkenalkan manusia yang api, manusia yang air, manusia yang angin, dan manusia yang tanah, harapan cinta hadir dengan kebijaksanaan pada manusia yang latif. Sebab manusia sempurna adalah manusia yang unsur di tubuhnya dalam keadaan seimbang, yaitu angin, api, air dan tanah Dalam kondisi labil, baru manusia dapat mencoba untuk belajar spiritual dengan baik. Namun ketidakpahaman manusia menyebabkan banyak yang terjerumus untuk mencari kekuatan (bukan spiritual), tentu sangat berbeda. Tujuan seperti itu akhirnya dapat menimbulkan ego. Lambat laun dapat mencelakakan orang lain dan diri sendiri. Mengapa belajar kesaktian dapat membelokan arah / tujuan hidup? Karena manusia dapat belajar kesaktian bila unsur pada tubuhnya menjadi tidak seimbang, ini yang cukup sakral perlu ditelaah ulang bagi orang yang ingin tahu.
contoh : manusia dapat mematahkan/membengkokkan besi, karena unsur api di tubuhnya ditingkatkan. Namun apa yang terjadi? Bila (unsur) di tubuhnya menjadi tidak seimbang. Tentu akan sulit untuk berada dalam kondisi 'manusia'. Sehingga sulit untuk terhubung dengan Tuhan.
DOWNLOAD NASKAHNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?2m2e3w7p7sgbp2c
Pasword Mediafire : teara
2. Naskah "LUKA" ditulis Hady Francesca
Luka adalah sebuah nama yang selalu menghantui seseorang yang kadang membuatnya tersenyum kadang pula bisa membwa ke duania mimpi yang semakin jauh meninggalakan alam kesadarannya… sudah banyak cara dilakukan untuk menaklukkan luka namun lagi-lagi luka selicin belut yang sulit dikuasai… latas bagaimana cara membutnya yakin luka yang bisa membutanya bernafas lebih lama… apakah dengan cara memaksakan sebuah cinta yang memang sulit dipaksakan… apakah dengan segala perjuangannya bisa menguasai luka dan tak meluakai rasa…? Pertunujukan ini yang akan menjawabnya…?
DOWNLOAD LENGKAP NASKAHNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?v5y674243dhra0k
Pasword Mediafire : teara
3. Naskah "SIAL" ditulis MAWARDI
Kerlip mata malammu, jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku. Kita memang tak saling bersama, sebab ruang tempat aku duduk di balik meja melihat cakrawala, begitu jauhpada batas dimensimu. Disini telentang sendiri, menatapmu, pendal-pendal kristal bertabur, yang indah karena berserakan, kerlipnya, jumpalitan bintang-bintang di sana, aku menakar batas akhir kemampuanku, menjangkau sumbercahaya.
DOWNLOAD NASKAH LENGKAPNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?v5jh4ba44q9g7k2
Pasword mediafire : teara
Download NASKAH TEATER GRATIS
Salah satu ciri teater modern adalah digunakannya naskah yang merupakan bentuk tertulis dari cerita drama yang baru akan menjadi karya teater setelah divisualisasikan kedalam pementasan. Naskah teater pada dasarnya adalah karya sastra dengan media bahasa kata. Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti memindahkan karya seni dari media bahasa kata ke media bahasa pentas. Dalam visualisasi tersebut karya sastra kemudian berubah esensinya menjadi karya teater. Pada saat transformasi inilah karya sastra bersinggungan dengan komponen-komponen teater, yaitu sutradara, pemain, dan tata artistik.
Naskah lakon sebagaimana karya sastra lain, pada dasarnya mempunyai struktur yang jelas, yaitu tema, plot, setting, dan tokoh. Akan tetapi, naskah lakon yang khusus dipersiapkan untuk dipentaskan mempunyai struktur lain yang spesifik. Struktur ini pertama kali di rumuskan oleh Aristoteles yang membagi menjadi lima bagian besar, yaitu eksposisi (pemaparan), komplikasi, klimaks, anti klimaks atau resolusi, dan konklusi (catastrope). Kelima bagian tersebut pada perkembangan kemudian tidak diterapkan secara kaku, tetapi lebih bersifat fungsionalistik.
1. Naskah "AENG" Putu Wijaya
http://www.mediafire.com/?ybl2ewbu58n3b83
2. Naskah "ANAK SIHIR" Juslifar M Junus
http://www.mediafire.com/?0ka4h83uqv57cpk
3. Naskah "ARWAH-ARWAH" W.B. YEATS terjemahan Suyatna Anirun
http://www.mediafire.com/?av64rljd5ft573p
4. Naskah "BADAI SEPANJANG MALAM" Max Arifin
http://www.mediafire.com/?556zepmaqmmdd7z
5. NASKAH "BALADA SAHDI- SAHDIA" Max Arifin
http://www.mediafire.com/?grtoraxfah18is9
6. NASKAH "BARA (embers)" Samuel Beckett (terjemahan)
http://www.mediafire.com/?3df4jywjno8zhwd
7. DLL
MENGENAI LINK LENGKAP DOWNLOAD KOLEKSI NASKAH-NASKAH TEATER DISINI :
http://www.mediafire.com/?8kt81oh8mmm99
Naskah Monolog PUTU WIJAYA
T R I K
Putu Wijaya
Ada wartawan, entah karena kurang sumber berita, entah karena halaman korannya kurang iklan, entah karena mau cari gara-gara, supaya bisa merebut perhatian pembaca, mencegatku ketika pulang dan bertanya:
Ada kabar burung, apa betul Ente tidak bangga lagi menjadi orang Indonesia?
Tidak menunggu lagi dia mengulang pertanyaannya, aku jawab secara jantan: tidak! Dan ketika dia mengulangi pertanyaannya untuk meyakinkan aku, apa sebenarnya inti dari yang ditanyakannya, aku tak menunggu lagi dia komplit bicara. Langsung saja kusergap: tidak, tidak dan tidak! Wartawan itu manggut-manggut sambil tersenyum. Nampaknya jawaban itu benar-benar memuaskannya. Sebab sesudah itu dia tidak bertanya lagi. Tanganku dijabat dan diguncang-guncangnya, sambil berbisik:
Dari semua orang yang sudah aku wawancarai, hanya kau yang bisa menjawab dengan cepat, sederhana tetapi jelas. Yang lain berpikir dululama, seringkali menyanyi ke Barat ke Timur, mengutip berbagai ucapan orang lain, lalu menjelaskan sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat, tetapi akhirnya mengembalikan pertanyaan itu kepadaku: Pendapat Anda sendiri bagaimana?
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?oachrro2i123j21
Putu Wijaya
Ada wartawan, entah karena kurang sumber berita, entah karena halaman korannya kurang iklan, entah karena mau cari gara-gara, supaya bisa merebut perhatian pembaca, mencegatku ketika pulang dan bertanya:
Ada kabar burung, apa betul Ente tidak bangga lagi menjadi orang Indonesia?
Tidak menunggu lagi dia mengulang pertanyaannya, aku jawab secara jantan: tidak! Dan ketika dia mengulangi pertanyaannya untuk meyakinkan aku, apa sebenarnya inti dari yang ditanyakannya, aku tak menunggu lagi dia komplit bicara. Langsung saja kusergap: tidak, tidak dan tidak! Wartawan itu manggut-manggut sambil tersenyum. Nampaknya jawaban itu benar-benar memuaskannya. Sebab sesudah itu dia tidak bertanya lagi. Tanganku dijabat dan diguncang-guncangnya, sambil berbisik:
Dari semua orang yang sudah aku wawancarai, hanya kau yang bisa menjawab dengan cepat, sederhana tetapi jelas. Yang lain berpikir dululama, seringkali menyanyi ke Barat ke Timur, mengutip berbagai ucapan orang lain, lalu menjelaskan sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat, tetapi akhirnya mengembalikan pertanyaan itu kepadaku: Pendapat Anda sendiri bagaimana?
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?oachrro2i123j21
Naskah Monolog AGUS NOOR
SARIMIN
Agus Noor
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.
Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.
Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.
Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?tcq663v62j6x52h
Agus Noor
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.
Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.
Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.
Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?tcq663v62j6x52h
Naskah Monolog
KORUPTOR BUDIMAN
SEORANG koruptor kakap mendadak muncul di kantor peradilan. Ia menyerahkan diri minta ditangkap. Beberapa petugas jaga – yang sebagian lagi ngobrol sambil nonton telenovela di televisi, dan sebagian lagi asyik main domino – langsung tergeragap kaget.
‘’Tolong tangkap saya,’’ koruptor ternama itu kembali bicara sambil mengulurkan kedua tangannya seolah-olah minta diborgol. Para petugas jadi langsung gemeteran. Apa tidak salah? ‘’Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar,’’ kata koruptor itu, sambil memandangi para petugas yang terheran-heran - juga agak ketakutan.
Tentu saja peristiwa itu langsung jadi berita besar. Puluhan wartawan segera mengerubungi sang koruptor. Dan koruptor itu pun langsung memberikan pernyataan-pernyataannya.
‘’Saya ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau pingin sembunyi, bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan. Kita nggak bakalan diperlakukan macam maling ayam. Paling ditanyai sedikit-sedikit basa-basi minta bagian hasil korupsi. Tak ada ruginya kalau kita berbagai rezeki sama hakim jaksa polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita.’’
Sejenak ia tersenyum, ketika kamera meng-close up wajahnya.
‘’Makanya saya di sini, minta diadili. Saya tak hendak membantah. Itu urusan para pengacara saya, karena untuk itulah mereka dibayar: membuat saya kelihatan tak bersalah.’’
‘’Jadi bapak tidak akan membantah kalau Bapak koruptor kakap?’’ cecar wartawan.
“Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru, yang menyatakan koruptor macam saya tak lebih benalu bangsa tak berguna. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi uang jadi terdistribusi. Terjadi pemerataan. Seperti pembangunan, korupsi juga terjadi di segala bidang. Kami tak pernah menikmati buat sendiri. Kami ikut nyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, iuran tujuhbelasan. Banyak. Karena sebagai koruptor yang baik, kami tahu cara mengelabui. Dengan berbuat baik, kami menjadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan, dan diminta bicara di pengajian.’’
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?e6fr6gmzvyi8c55
SEORANG koruptor kakap mendadak muncul di kantor peradilan. Ia menyerahkan diri minta ditangkap. Beberapa petugas jaga – yang sebagian lagi ngobrol sambil nonton telenovela di televisi, dan sebagian lagi asyik main domino – langsung tergeragap kaget.
‘’Tolong tangkap saya,’’ koruptor ternama itu kembali bicara sambil mengulurkan kedua tangannya seolah-olah minta diborgol. Para petugas jadi langsung gemeteran. Apa tidak salah? ‘’Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar,’’ kata koruptor itu, sambil memandangi para petugas yang terheran-heran - juga agak ketakutan.
Tentu saja peristiwa itu langsung jadi berita besar. Puluhan wartawan segera mengerubungi sang koruptor. Dan koruptor itu pun langsung memberikan pernyataan-pernyataannya.
‘’Saya ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau pingin sembunyi, bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan. Kita nggak bakalan diperlakukan macam maling ayam. Paling ditanyai sedikit-sedikit basa-basi minta bagian hasil korupsi. Tak ada ruginya kalau kita berbagai rezeki sama hakim jaksa polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita.’’
Sejenak ia tersenyum, ketika kamera meng-close up wajahnya.
‘’Makanya saya di sini, minta diadili. Saya tak hendak membantah. Itu urusan para pengacara saya, karena untuk itulah mereka dibayar: membuat saya kelihatan tak bersalah.’’
‘’Jadi bapak tidak akan membantah kalau Bapak koruptor kakap?’’ cecar wartawan.
“Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru, yang menyatakan koruptor macam saya tak lebih benalu bangsa tak berguna. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi uang jadi terdistribusi. Terjadi pemerataan. Seperti pembangunan, korupsi juga terjadi di segala bidang. Kami tak pernah menikmati buat sendiri. Kami ikut nyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, iuran tujuhbelasan. Banyak. Karena sebagai koruptor yang baik, kami tahu cara mengelabui. Dengan berbuat baik, kami menjadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan, dan diminta bicara di pengajian.’’
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?e6fr6gmzvyi8c55
Naskah Monolog IKUN SRI KUNCORO
IBU KITA RAMINTEN
Diangkat dari novel karya Muhamad Ali
Yang aku bayangkan adalah ruang pengadilan. Tapi ruang ini sekaligus juga harus hadir secara simbolik sebagai sebuah kungkungan, yang dengan itu berarti ia juga menindas, entah sebagai sebuah sistem (termasuk tata nilai, di sini) atau sesuatu hal yang lain yang muaranya pada konstruksi sosial.
Maka, bayangannya adalah pilar-pilar tiang dengan berbagai ukuran yang secara kompositif memberi efek visual menekan karena stage dalam pembayangannya hanya berisi sebuah tempat duduk terdakwa (Raminten), maka tiang-tiang ini harus dipermainkan dengan cahaya yang memberi aksentuasi atas suasana monolog Raminten. Jika ditemdukan ikon lain yang lebih menggugah tentu itu yang diharapkan.
Andai potensi teaternya mampu, yang aku bayangkan dari teater ini hanyalah teater auditif: sebuah rangkaian irama bunyi yang memukau (membuat penonton betah) yang muncul dari wilayah tekanik ucapan dan ilustrasi musik. Sehingga, Raminten tidak perlu beranjak dari kursi terdakwanya untuk sebuah spektakel yang lain.
Tetapi sejujurnya saya juga tak mengelak, andai prosesi latihan, proses penciptaan teater yang sesungguhnya memberikan penawaran lain yang sering tak terduga dan tak dibayangkan pada awalnya. Karena, sebenarnya, di situlah letak keajaiban teater.
"Panggung itu gelap, ketika lamat-lamat detak sepatu membentur ubin hadir semakin nyata dan berselah-selih dengan suara “ngremo” antara bunyi gamelan dan tembang, juga dentam besi dari gembok dan kerangkeng penjara. Sampai suasana menjadi".
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?weci75jirovguor
Diangkat dari novel karya Muhamad Ali
Yang aku bayangkan adalah ruang pengadilan. Tapi ruang ini sekaligus juga harus hadir secara simbolik sebagai sebuah kungkungan, yang dengan itu berarti ia juga menindas, entah sebagai sebuah sistem (termasuk tata nilai, di sini) atau sesuatu hal yang lain yang muaranya pada konstruksi sosial.
Maka, bayangannya adalah pilar-pilar tiang dengan berbagai ukuran yang secara kompositif memberi efek visual menekan karena stage dalam pembayangannya hanya berisi sebuah tempat duduk terdakwa (Raminten), maka tiang-tiang ini harus dipermainkan dengan cahaya yang memberi aksentuasi atas suasana monolog Raminten. Jika ditemdukan ikon lain yang lebih menggugah tentu itu yang diharapkan.
Andai potensi teaternya mampu, yang aku bayangkan dari teater ini hanyalah teater auditif: sebuah rangkaian irama bunyi yang memukau (membuat penonton betah) yang muncul dari wilayah tekanik ucapan dan ilustrasi musik. Sehingga, Raminten tidak perlu beranjak dari kursi terdakwanya untuk sebuah spektakel yang lain.
Tetapi sejujurnya saya juga tak mengelak, andai prosesi latihan, proses penciptaan teater yang sesungguhnya memberikan penawaran lain yang sering tak terduga dan tak dibayangkan pada awalnya. Karena, sebenarnya, di situlah letak keajaiban teater.
"Panggung itu gelap, ketika lamat-lamat detak sepatu membentur ubin hadir semakin nyata dan berselah-selih dengan suara “ngremo” antara bunyi gamelan dan tembang, juga dentam besi dari gembok dan kerangkeng penjara. Sampai suasana menjadi".
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?weci75jirovguor
Naskah Monolog RAHMAN SABUR
TOPENG
Wajah kita adalah topeng-topeng
Semua wajah bertopeng
Topengku dan topengmu saling menterjemahkan isyarat
Ayo! Siapa diantara kita bersedia menanggalkan topeng dirinya?
Aku tahu wajahmu dan kaupun tahu wajahku
Topengmu dan topengku saling menatap jahat!
Wajah-wajah dibalik topeng
Topeng-topeng bercengkrama dipanggung hidup
Lalu saling bunuh!
Topengmu dan topengku bergerak terus bergerak
Menarikan kehidupan
Menarikan kematian………….
Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa saya bukan lagi seorang Waska. Saya adalah seorang Semar. Dan siapa bilang saya ini sudah mati ? He……. he…….. he…….. itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Sungguh saudara! Saya belum mati. Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa ! kalau ada yang mendengar kabar bahwa saya telah mati, itu isyu ! jangan percaya ! orang saya masih hidup, dikatakan sudah mati ? bagaimana ini ? lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan malaikat Jibril ? bohong itu ! Lha, saya hanya pernah bermimpi ketemu dengan almarhum Mbah saya. Masa Mbah saya dikatan malaikat ? itu mengada-ada……. Itu berlebihan. Jangan-jangan malaikat Jibril nantinya tersinggung dan almarhum Mbah saya juga tersinggung oleh fitnah ini.
Baik, sekarang pertanyaan mana lagi yang belum saya jawab ?
Oh ya ! tentang proyek “Jembatan Surga “. Proyek itu adalah proyek kemanusiaan - religi yang paralel dengan bisnis juga. Tidak apa-apa kan ? halalkan ? proyek itu juga bisa dikatakan sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki yang berlimpah. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Astaga ! saya jadi teringat kembali ke masa hidup saya dulu. Masa sulit dan pailit……… Tapi maaf………. Sekali lagi saya mohon maaf …….. saya harus segera pergi. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Maaf, saya harus segera pergi.
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?ln7gfnw306pnbwc
Wajah kita adalah topeng-topeng
Semua wajah bertopeng
Topengku dan topengmu saling menterjemahkan isyarat
Ayo! Siapa diantara kita bersedia menanggalkan topeng dirinya?
Aku tahu wajahmu dan kaupun tahu wajahku
Topengmu dan topengku saling menatap jahat!
Wajah-wajah dibalik topeng
Topeng-topeng bercengkrama dipanggung hidup
Lalu saling bunuh!
Topengmu dan topengku bergerak terus bergerak
Menarikan kehidupan
Menarikan kematian………….
Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa saya bukan lagi seorang Waska. Saya adalah seorang Semar. Dan siapa bilang saya ini sudah mati ? He……. he…….. he…….. itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Sungguh saudara! Saya belum mati. Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa ! kalau ada yang mendengar kabar bahwa saya telah mati, itu isyu ! jangan percaya ! orang saya masih hidup, dikatakan sudah mati ? bagaimana ini ? lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan malaikat Jibril ? bohong itu ! Lha, saya hanya pernah bermimpi ketemu dengan almarhum Mbah saya. Masa Mbah saya dikatan malaikat ? itu mengada-ada……. Itu berlebihan. Jangan-jangan malaikat Jibril nantinya tersinggung dan almarhum Mbah saya juga tersinggung oleh fitnah ini.
Baik, sekarang pertanyaan mana lagi yang belum saya jawab ?
Oh ya ! tentang proyek “Jembatan Surga “. Proyek itu adalah proyek kemanusiaan - religi yang paralel dengan bisnis juga. Tidak apa-apa kan ? halalkan ? proyek itu juga bisa dikatakan sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki yang berlimpah. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Astaga ! saya jadi teringat kembali ke masa hidup saya dulu. Masa sulit dan pailit……… Tapi maaf………. Sekali lagi saya mohon maaf …….. saya harus segera pergi. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Maaf, saya harus segera pergi.
LINK DOWNLOADNYA DISINI :
http://www.mediafire.com/?ln7gfnw306pnbwc
Langganan:
Postingan (Atom)























