This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 05 Maret 2012

Bentara Pustaka: JURU TEMBANG DALAM NOVEL THE SINDEN

Halimah Munawir
Tidak sedikit karya fiksi Indonesia yang menghadirkan tokoh perempuan yang hidup di dalam kungkungan tradisi tertentu, berikut problematiknya terkait budaya patriarki yang dirasa tidak adil. Sebut saja sosok Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer, kisah penari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Sukreni Gadis Bali dari Panji Tisna, hingga pengarang-pengarang era kini semisal Saman dari Ayu Utami.

Pustaka Bentara kali ini mencoba membahas tentang novel The Sinden karya Halimah Munawir yang juga bercerita tentang Waranggana, sosok gadis juru tembang yang mumpuni. Si tokoh utama ini mengalami kehidupan yang terbilang tragis, di mana kepiawiannya menembang dan kecantikannya justru mengundang aneka peristiwa yang tak terduga, antara hendak dijadikan tumbal sebuah jembatan dan incaran sebagai istri kesekian dari para lelaki hidung belang.

Selain akan menguraikan kekuatan literer novel ini (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama) dibahas pula perihal keberadaan perempuan dalam perspektif sastra dan kenyataan sosial selama ini. Sebagai pembicara tampil Halimah Munawir dan I Made Sujaya.


Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Sejak SMA aktif menulis dan kemudian terjun ke jurnalistik sambil menimba ilmu di Filsafat Driyarkara. Sejak menikah dan sampai anak kedua berusia 5 tahun, ia aktif di Harian Indonesia. Semasa mahasiswa tergabung dalam Kelompok Studi Proklamasi yang kerap mengadakan diskusi dan menerbitkan buku-buku perihal agama dan masalah-masalah pembangunan. Tahun 1988, bersama suami, Munawir Anwar, meluncurkan buku Success Story Nilasari dan menerbitkan buku Fotobiografi Mbok Berek (2006). The Sinden adalah novelnya yang pertama, diselesaikan serta diterbitkan tahun 2011.

I Made Sujaya mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana dan IKIP PGRI Bali. Bekerja pula sebagai jurnalis di Harian Denpost. Pengamat sosial budaya dan kesenian Bali ini telah menerbitkan berbagai buku, antara lain Kuta Berdaya, Perkawinan Terlarang, Sepotong Nurani Kuta, dan sebagainya.

Sabtu, 03 Maret 2012

Menulis Tanpa Pretensi Sebagai Terapi

Menulis Tanpa Pretensi Sebagai Terapi
oleh : Ine Febriyanti
Untuk kali pertama, pelaku seni peran Ine Febriyanti, menerbitkan tulisannya dalam sebuah buku. Ine tak sedang menjajal profesi baru sebagai penulis buku, apalagi beralih dari pilihan profesinya kini sebagai sutradara, penulis naskah film, dan pemain teater. Ia tergerak untuk menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, yang mengekspresikan pemikiran, perasaan, juga pengalaman melalui tulisan dan buku.

Buku berjudul 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan diterbitkan secara mandiri oleh komunitas dan penerbit Perempuan Bukan Penyair. Nama Ine tercantum di dalamnya, sebagai penulis, bersama enam perempuan urban lainnya dari berbagai latar belakang profesi. Satu tulisan Ine berjudul Misteri Panggung, di buku ini, merupakan perwujudan energi yang menggumpal dalam dirinya, selepas ia menuntaskan pementasan ulang monolog Surti pada Oktober 2011.

"Menulis itu terapi. Biasanya saya menulis jika sedang gelisah, marah, saat emosi tidak seimbang. Tulisan ini saya buat ketika saya akhirnya tampil di panggung teater setelah tujuh tahun vakum. Setelah menjalani proses persiapan pentas selama tiga bulan, lalu tampil dua hari, setelahnya saya merasa gelisah, masih banyak energi yang menggumpal dalam diri. Setelah menuliskannya, saya merasa lebih plong," tutur Ine kepada Kompas Female di sela peluncuran buku 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan di Tjikini Cafe, Jakarta, Rabu (15/2/2012) lalu.

Ine memang terbiasa menulis sejak belia. Ia selalu menulis dengan tangan menggunakan kertas dan pena, mengenai apa saja yang membuatnya gelisah. Tulisannya lebih kepada pengalaman personal yang tak pernah terpikirkan olehnya untuk diterbitkan. Tapi sekali ini, Ine merasa tergerak menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, demi mendorong perempuan lainnya untuk menulis saling memberikan inspirasi. Inspirasi bahwa perempuan juga punya ruang untuk menulis dan menerbitkan tulisannya melalui buku.

"Saya punya banyak tulisan seperti ini, tapi tidak untuk dipublikasikan," ungkap Ine yang tak lantas berpikir untuk menjadi penulis buku. "Saya bukan penulis buku, dan sebenarnya saya agak malu menerbitkan tulisan yang sangat personal ini. Saya merasa lebih baik menulis skenario. Namun, semangat teman-teman untuk menerbitkan buku mendorong saya melakukannya. Kita memang perlu mencari ruang apa yang tepat untuk menumpahkan energi. Menulis salah satunya," jelas Ine.

Seperti enam perempuan penulis lainnya, Ine menulis tanpa pretensi. "Tulisan saya lebih kepada kontemplasi, saya seperti bicara pada diri sendiri, tanpa pretensi apa pun," jelasnya. Meski begitu, nyatanya pilihan kata-kata Ine, memberikan inspirasi bagi orang lain dan ia pun mendapatkan apresiasi atasnya. Ia pun menemukan, apa pun yang Anda tuliskan boleh jadi orang lain akan merasakan hal yang sama. Pada akhirnya, apa yang Anda tuliskan menjadi inspirasi atau bahkan membuat orang lain berkontemplasi bersama tulisan Anda.

Beberapa kalimat dalam tulisan Ine yang mendapatkan apresiasi dan bisa menjadi inspirasi di antaranya: Dan ternyata kita membutuhkan "sinting" untuk dapat melakukan lompatan-lompatan kehidupan; Aku dilarang besar kepala. Besar kepala adalah jalan tercepat untuk menjadi bodoh dan tumpul. Tapi mungkinkah itu bagian dari sebuah pencapaian? Pujian, pujian? Kuharap tidak.

Tulisan tanpa pretensi dihasilkan Ine dari pengalaman pribadinya. Berasal dari konflik dalam dirinya, atas keputusannya kembali tampil di panggung teater setelah tujuh tahun tak bersentuhan dengan dunia teater. Tak mudah baginya melakukan monolog selama 1,5 jam, seorang diri memerankan 10 karakter. Namun inilah tantangan yang diambil seorang perempuan urban, untuk memberanikan diri kembali melakukan hal yang memang disukainya.

"Butuh keberanian lebih bagi ibu beranak tiga yang sudah lama tak tampil di panggung teater. Ada keraguan pada awalnya, namun karena rindu panggung, saya melakukannya," tutur Ine yang menceritakan (dalam bukunya) bagaimana ia menikmati misteri di panggung teater di pementasan monolog yang berujung pada kesuksesan, termasuk apresiasi positif dari penikmat seni teater.

Ine memang tak meninggalkan pesan apa pun melalui tulisannya. Namun melalui satu tulisan yang dibukukan bersama tulisan perempuan lainnya, Ine menjadi bagian dari perempuan urban dengan berbagai kisah dan pengalaman. Anda bisa menemukan sendiri berbagai pesan dan makan mendalam yang tersirat dalam tulisan tujuh perempuan ini.

Kamis, 23 Februari 2012

Novel "NUN"

NUN, sebuah novel WHANNY DARMAWAN.
Cerita tentang kekalahan dan pemberontakan IBU KUNTHI pada stigmatisasi diirinya sebagai perempuan. Juga masa lalunya yang pernah hitam, ditagih oleh sempalan dagingnya terbuang di masa depan, SUTAGANGGA. Sementara SUTAGANGGA sendiri berusaha berontak dari keadaan identitas dirinya yang gelap. Ia meyakini bahwa dirinya ada untuk kepentingan dharma. Lain itu tidak. Maka apapun yang terjadi ia berpegang pada pemahaman hak dan wajib. Benarkah dharma mengenal hak dan wajib?

Omahkebon Publishing. Tebal 253 halaman. Sistem penjualan pesan-kirim (Delivery order). Rp 50.000 + ongkir (menyesuaikan tujuan). Kontak akunt Omah Kebon atau Whanny Darmawan.

Rabu, 15 Februari 2012

TARI POTREH KONENG

TARI POTREH KONENG
Tari ini merupakan tari kreasi dari anggota teater fataria, meskipun sepenuhnya tdk memiliki bakat Tari, hanya sedikit ada sisa bakat tari. akhirnya dengan semangat yang tersisa mereka latihan untuk menggarap dan menampilkan sebuah Tari. Tari ini merupakan tari pertama kalinya, mskpn sebelumnya pernah menggarap tari dengan menggabungkan dengan penggarapan pentas Teater. TARI POTREH KONENG ini dipentaskan di acara PENTAS STUDY dan DIES MAULIDIYAH TEater Fataria Tahun 2012.

LINK YOUTUBE TARI POTREH KONENG :

Minggu, 12 Februari 2012

PUISI DIQI

Sajak Rindu ke_7

Sayang,
Mendung semakin menebal
Setebal rinduku sederas arus
Dan sepertinya gerimis akan segera turun, serta gigil hatiku akan menemuimu dipenghujung subuh
Sembari menyuguhkan sajak rindu dimalam ketujuh

Sayang,
Mari heningkan hati
Meminta musim penghujan akan segara tiba
Karena setidaknya kau tahu rinduku selebat hujan sepanjang perjalanan musim

Gelegar Guntur itu
: rinduku bertalu

Pmk 18 sept 2011


KAU:

Dimataku kau bukan apapun
Bahkan kesejukan
Pun bara api pada tungku ibu dimasa lalu

;melainkan sesederhana mimpiku selama ini


Pmk 15 09 2011


REKAH

Segala anganku tak ubahnya kepingan asa dan sepotong kenangan saat kemarau menjelang
Lantaran slau auramu menelusup hingga celah kesadaranku

Hanya engkau yang mampu menjadikan titik itu menjadi garis terpanjang dalam hidupku
Bahkan jarak terjauh yang kau tunjuk, tampak jelas di hening matamu

_Sayu

Pmk 14 09 2011


SKETSA

Aku melihat biru telaga dikedalaman jernih retinamu
Mengajakku mengeja setiap helai aksara yang tertata serupa puisi
Ya,
Puisi rindu tanpa diksi
Akh,
Sebanarnya baitbait ini hanya pengatar saja bagi suatau yang yanga tak kau tahu adanya
Pada malam yang belm mampu terlampaui

Pmk 15 09 2011

SHIDDIQI merupakan ketua umum teater fataria 2011-2012 yang lahir di Sumenep sampai sekarang tetap aktif menulis karya sastra termasuk : Puisi, Naskah, Cerpen Dll.

NAAS-ER

NAAS-ER

NAAS-ER merupakan sebuah naskah tanpa dialog yang ditulis & digarap oleh GUGUK salah satu anggota teater fataria, Naskah ini memang mengisahkan sesuatu dalam diri manusia yang paling halus yaitu NURANI : Ketika segala kebajikan telah dimatikan berganti kebajikan yang semu. ketika rongga hati berganti ketidakpedulian,
Saling membenci lebih menjadi pilihan. Ketika apa yang dilakukan tidak lgi penuh dengan kebenaran, Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran. dan kekeakuan yang semakin tinggi, lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih. dan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Namun pada akhirnya terkadang mereka akan merindukan suara halus, samar-samar dalam dirinya yang akan membawa kepada kedamaian yang sebenarnya.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya.

Mengenai Ide Pengggarapannya Silahkan Download disini :
http://www.mediafire.com/?rb77c880rnd8jq5
Paswordnya : teara

Link Video Youtubenya disini :

Rabu, 08 Februari 2012

SEMIOTEXT

SEMIOTEXT (E) Pembicaraan di Los Angeles Seni Kontemporer
Semiotexte menampilkan tiga acara: David Wojnarowicz : Sejarah definitif lima atau enam tahun di sebelah timur lebih rendah samping percakapan dengan Sylvere Lotringer dan Jennifer Doyle; Chris Kraus, Ketika Seni Milik-pembacaan oleh Chris Kraus, dan Halsted Plays sendiri-a membaca dan skrining dengan artis dan pembuat film William E. Jones.

David Wojnarowicz: riwayat definitif lima atau enam tahun di sisi timur lebih rendah
13:00, Sabtu

Sylvere Lotringer dan Jennifer Doyle pada seniman David Wojnarowicz. Pada bulan Februari 1991, artis David Wojnarowicz (1954-1992) dan filsuf Sylvere Lotringer bertemu di sebuah apartemen Timur dipinjam Desa untuk melakukan dialog lama ditunggu-tunggu pada pekerjaan Wojnarowicz itu. Wojnarowicz kemudian pada puncak ketenaran sebagai antagonis sengit moral tentara salib Senator Jesse Helms-sebuah ketenaran yang Wojnarowicz bergantian memeluk dan ditolak. Sudah menderita tahap akhir AIDS, David melihat dialog dengan Lotringer sebagai kesempatan untuk meluruskan pada aspirasinya, sejarah pribadinya, dan pandangan politiknya.

Sylvère Lotringer adalah kritikus sastra dan teori budaya. Sebuah kontemporer muda dari Gilles Deleuze, Félix Guattari, Jean Baudrillard, Paulus Virilio dan Michel Foucault, ia paling dikenal karena teori sintesis Perancis dengan Amerika sastra, budaya dan arsitektur avant-garde gerakan melalui karyanya dengan Semiotext (e), dan untuk-Nya interpretasi dari teori Prancis dalam konteks abad ke-21.

Jennifer Doyle mengajarkan sastra Amerika, studi gender, dan studi visual. Dalam buku Sex Objek nya: Seni dan Dialektika of Desire (Minnesota, 2006), Doyle menunjukkan bagaimana pernyataan bahwa sebuah karya seni adalah "tentang seks" mengungkapkan sangat sedikit tentang pekerjaan, artis, atau penonton.

Chris Kraus, Ketika Seni Milik
14:00, Sabtu

Chris Kraus akan membaca dari 2011 bukunya MANA ART MILIK, yang meneliti perusahaan artistik terbaru yang merebut kembali penggunaan waktu hidup sebagai suatu material. Memperluas argumen dimulai dalam buku sebelumnya nya, VIDEO HIJAU, Kraus berpendapat bahwa "dunia seni yang menarik hanya sejauh yang mencerminkan dunia yang lebih besar di luarnya." Review Buku Glasgow menggambarkan MANA ART MILIK sebagai "hasutan untuk menemukan seni, untuk membaca dengan cara yang heroik, dan untuk menciptakan sejenak;" Bookforum memuji nya "tersembunyi teoritis poeticism dan menakutkan." "Dalam MANA MILIK ART," Alina Astrova menulis, "teori seni menjadi filsafat politik ... cara menetapkan suatu cara hidup di luar konvensi kapitalis."

Chris Kraus adalah penulis empat novel dan dua buku esai seni. Penerima Award Mather Frank di Kritik Seni dan seni Warhol Yayasan menulis hibah, dia telah digambarkan oleh Holland Cotter di New York Times sebagai "salah satu penulis kami cerdas dan asli tentang seni dan budaya."

Halsted Dimainkan Sendiri
15:00, Sabtu

Semiotext (e) menyajikan seniman ternama dan pembuat film William E. Jones yang akan membaca bagian pilih dari buku barunya, Halsted Plays sendiri. Dia juga akan menyaring segmen LA Plays Hakikat: ". Informasi baru bagi saya" sebuah, eksplisit secara seksual otobiografi, film eksperimental yang meninggalkan New York skrining bahkan Salvador Dalí berulang kali bergumam Halsted, seorang pembuat film otodidak, ditembak film selama tiga tahun di Los Angeles sekarang-lenyap, sebuah kota sekaligus pedesaan dan curang. Dalam Halsted Plays sendiri, Jones mendokumentasikan usahanya untuk menangkap personas publik dan swasta sulit dipahami Halsted-untuk membidik pada identitas penuh dengan kontradiksi.

William E. Jones adalah seorang seniman dan pembuat film yang mengajar sejarah film di College Art Center of Design di Pasadena. Dia telah membuat dua film panjang eksperimental, Massillon (1991) dan Selesai (1997), video pendek, termasuk Kejatuhan Komunisme sebagai Dilihat dari Pornografi Gay (1998), film dokumenter panjang fitur Is It Really Jadi Aneh? (2004), dan instalasi banyak video. Film dan video adalah subjek Retrospektif di Tate Modern, London, pada tahun 2005, dan pada Anthology Arsip Film, New York, pada tahun 2010.

Semiotext (e) dikenal diperkenalkan teori Prancis untuk pembaca Amerika telah menjadi salah satu penekanan yang paling berpengaruh di Amerika independen sejak didirikan lebih dari tiga dekade lalu.

sumber : http://artlosangelesfair.com/pressitem-59