Kamis, 15 Maret 2012
KETIKA TEATER DITERTAWAI TELEVISI
Oleh ; Riyadhus Shalihin
Eskperimentasi kondisi manusia indonesia di alam entertain, telah mengalami tahap penghiburan yang merangsek dan melibas semua lini kebudayaan. Manusia Indonesia hari ini memasung limpahan nurtur kontemplatifnya dengan segala persoalan senda gurau dan juga gelak tawa. Usaha pemasungan ini kemudian masuk menerobos dalam ruang-ruang seni pertunjukan menuju narasi publik yang berjejaring luas.
Hari ini kita patut miris dengan lahirnya berbagai acara televisi, publik luas membutuhkan aktualisasi entertain secara lebih vital, melebihi kondisi primal teologisnya. Ada reposisi realitas ketika sinetron tidak lagi dapat memuaskan hasrat para masyarakat untuk mempersoalkan spekulasi tebak dramatik, ataupun acara-acara yang berbau seks sudah tidak lagi menjadi top rating, berita – berita artis dengan gosip-gosipnya sudah tidak begitu memanas, dan program artis-artis karbitan yang bermunculan dari berbagai media internet tidak lagi menjaring greget yang pedas dari masyarakat luas, lalu apa lagi objek yang akan digali oleh industri pertelevisian Indonesia.
TEATER DENGAN KEMASAN BERBEDA
Kreasi itu kemudian menjelma dalam program terbaru salah satu televisi swasta Indonesia, yang merupakan salah satu stasiun televisi dengan rating tinggi dan audiens remaja terbanyak . Mereka menghadirkan 2 buah program terbarunya yang bermaksud untuk memodifikasi seni teater ke dalam sebuah layar hibur, dengan tagline utama acara “Kini hadir teater dengan sentuhan berbeda, yang pasti membuat anda tertawa“ maka kita telah mendapatkan sebuah kesimpulan secara general bahwasanya dahulu teater adalah kondisi klasik sebuah seni yang tua, asing, kumuh dan tidak mempunyai nilai jual untuk dikomersialisasi melalui nilai-nilai nominal perniagaan, dan lembaga televisi datang sebagai “hero“ yang menyelamatkan teater dalam kondisi tuna modalnya untuk direvitalisasi, diberi bumbu penyegar sana-sini, menjadi sebuah tayangan pengocok perut yang siap membuat anda terpingkal-pingkal di depan layar televisi. Dengan acak usahawan televisi membawa kondisi hakikat seni pertunjukan teater yang hadir di dalam kondisi neumenon panggung menjadi tayangan luas di dalam layar eksebisi.
Ada keserampangan yang terjadi dalam meja sirkulasi perusahaan ketika melihat teater sebagai mangsa empuk untuk membongkar hakikat kejenuhan televisi, setelah renovasi dan daur ulang program maka kini giliran teater yang mendapat kehormatan untuk dijadikan “Sang Bintang“ baru dalam jagat euphoria selebratif, di sana teater segera terakomodir menjadi ujaran-ujaran banyol yang penuh daya tarik komedi, menggerus seluruh aura komikal dan juga dramatik pentas menjadi sang “badut“ baru. Ada pula acara yang memakai essensi pemakaian ucap olah dialog sebagai nama acaranya, lalu di sana hadir laku-laku pemeranan yang meniru-niru gestikulasi serta mimik para bintang-bintang komedi. Seperti misalnya salah satu peserta yang maju ke depan lalu disuruh untuk menirukan ekspresi seorang bintang lawak, dan itu adalah dinamakan segmen “meniru tokoh“, dalam beberapa detik laku duplikasi psikis “keaktoran“ mereka ejawantahkan demi menghasilkan respon tawa dari para penonton yang hadir. Tentu sirkulasi uang yang bermain di sana memberikan efek yang sangat kuat agar para “aktor teater “ dalam acara tersebut mampu semaksimal mungkin membuat para hadirin yang hadir terpuaskan, pembebasan hasrat saling menghina yang kemudian raib dan hilang sesaat itu juga, tanpa impresi, tanpa pesan, hanya tawa.
Segmen meniru tokoh dalam hitungan detik merobohkan nilai-nilai kodrati dalam laku pemeranan teater yang sesungguhnya. Proses keaktoran teater membutuhkan sistematika yang sangat panjang dan juga kultur penghayatan tokoh dalam suasana kultus lenyap dan hilang hanya dengan satu acara televisi. Usaha-usaha pemuliaan seni acting yang dilakukan oleh aktor-aktor teater yang terkadang membutuhkan sedikitnya 3 bulan untuk menjadi dan mewadag dalam sebuah pemeranan dilibas dalam hitungan detik, siap untuk menggedor hasrat spontanitas tertawa anda, tertawa pada televisi, menertawai teater.
USAHA PANJANG YANG TERPUTUS
Ada usaha-usaha meniru pemahaman pertunjukan drama yang diletupi dengan aura-aura showbiz, atau show business. bagaimana kondisi pemakaian naskah/lakon yang merupakan salah satu perangkat teater mereka jadikan duplikasi televisual, kondisi-kondisi set drama realis mereka hadirkan dengan cabik-cabik slapstick yang dilapisi dengan ekspresi komikal juga improvisatoris. Maka hadirlah sebuah teater baru, sebuah masterpiece seni yang melenyapkan semua narasi panjang pergumulan konsepsi teater, yang mengganti semua piranti mazhab-mazhab teater ke dalam remeh-temeh acara yang berseliwer berlalu, lenyap sesaat.
Teater sendiri sebelumnya pernah terputus dalam usaha pemaknaannya kepada publik, ketika ditunggangi oleh oknum jurnalis yang dengan ketidakpahamannya menyimpulkan segala bentuk demonstrasi dengan spektakel “seram, hitam, berlumpur-lumpur“ adalah sebuah bentuk teatrikalisasi demo, ataupun hadirnya para bocah-bocah di jalan yang meminta uang sembari melumuri badannya dengan cat dianggap pula sebagai sebuah kesenian teater, akhirnya dengan usaha kuratif segigih mungkin para seniman teater berusaha mengembalikan hakiki teater ke dalam kondisi ontologisnya. Namun pembiasan pemahaman ini tidak bisa lagi diproteksi oleh para penggiat teater secara prosesial, apabila media televisi telah berinisiatif untuk menyatakan kondisi “teater“ versi mereka, televisi absah sebagai juru bicara teater di sini, merekalah publik relasi teater abad baru yang memperkenalkan teater dari ujung aceh hingga pelosok papua.
Usaha Alm.Suyatna Anirun dengan Studi Klub Teaternya yang telah membangun suprajaringan teater selama berpuluh tahun demi mengakrabkan masyarakat dengan teater kini punah dan lumer, teater akan dikategorisasi secara remeh sebagai selebrasi acting yang dapat mudah dilakukan semua orang untuk menghibur massa, mencari uang juga berlenggak-lenggok demi mendapatkan ketenaran paras dalam usaha percantikan tubuhnya di depan layar.
Perlu diberi apresiasi bahwa hari ini lahir begitu banyak seniman teater yang semakin sadar teks, mereka memperpanjang teater dengan sarana bahasa, filsafat juga budaya sebagai ornamentasi teater agar semakin optimal secara lingustik, visual bahkan lintas media. Namun apa mesti dikata, inilah kondisi aktual teater hari ini yang berkembang di benak massa, apa yang mesti dilakukan oleh panggung dengan prosesi estetik berbulan-bulannya menghadapI pemeranan selama 5 detik yang disebarluaskan secara serentak di televisi, apa yang ditawarkan teater menghadapi narasi besar industri.
Kiranya ini hanyalah gambaran luas bagaimana kehadiran televisi yang tidak kita sadari, tak tanggung-tanggung telah merangsek dan melucuti riwayat teater secara tiba-tiba. Lalu apakah masih teater akan bersikap steril dengan segala lalu lintas narasi virtual di sekitarnya, karena ternyata lambat laun berdiam, logos teater perlahan-lahan terebut, bermula dari sisi artifisial maju perlahan menggerogoti menuju sisi fundamennya.
* Mahasiswa Teater, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.
Sumber : http://mediateater.com/ketika-teater-ditafsir-televisi/
Eskperimentasi kondisi manusia indonesia di alam entertain, telah mengalami tahap penghiburan yang merangsek dan melibas semua lini kebudayaan. Manusia Indonesia hari ini memasung limpahan nurtur kontemplatifnya dengan segala persoalan senda gurau dan juga gelak tawa. Usaha pemasungan ini kemudian masuk menerobos dalam ruang-ruang seni pertunjukan menuju narasi publik yang berjejaring luas.
Hari ini kita patut miris dengan lahirnya berbagai acara televisi, publik luas membutuhkan aktualisasi entertain secara lebih vital, melebihi kondisi primal teologisnya. Ada reposisi realitas ketika sinetron tidak lagi dapat memuaskan hasrat para masyarakat untuk mempersoalkan spekulasi tebak dramatik, ataupun acara-acara yang berbau seks sudah tidak lagi menjadi top rating, berita – berita artis dengan gosip-gosipnya sudah tidak begitu memanas, dan program artis-artis karbitan yang bermunculan dari berbagai media internet tidak lagi menjaring greget yang pedas dari masyarakat luas, lalu apa lagi objek yang akan digali oleh industri pertelevisian Indonesia.
TEATER DENGAN KEMASAN BERBEDA
Kreasi itu kemudian menjelma dalam program terbaru salah satu televisi swasta Indonesia, yang merupakan salah satu stasiun televisi dengan rating tinggi dan audiens remaja terbanyak . Mereka menghadirkan 2 buah program terbarunya yang bermaksud untuk memodifikasi seni teater ke dalam sebuah layar hibur, dengan tagline utama acara “Kini hadir teater dengan sentuhan berbeda, yang pasti membuat anda tertawa“ maka kita telah mendapatkan sebuah kesimpulan secara general bahwasanya dahulu teater adalah kondisi klasik sebuah seni yang tua, asing, kumuh dan tidak mempunyai nilai jual untuk dikomersialisasi melalui nilai-nilai nominal perniagaan, dan lembaga televisi datang sebagai “hero“ yang menyelamatkan teater dalam kondisi tuna modalnya untuk direvitalisasi, diberi bumbu penyegar sana-sini, menjadi sebuah tayangan pengocok perut yang siap membuat anda terpingkal-pingkal di depan layar televisi. Dengan acak usahawan televisi membawa kondisi hakikat seni pertunjukan teater yang hadir di dalam kondisi neumenon panggung menjadi tayangan luas di dalam layar eksebisi.
Ada keserampangan yang terjadi dalam meja sirkulasi perusahaan ketika melihat teater sebagai mangsa empuk untuk membongkar hakikat kejenuhan televisi, setelah renovasi dan daur ulang program maka kini giliran teater yang mendapat kehormatan untuk dijadikan “Sang Bintang“ baru dalam jagat euphoria selebratif, di sana teater segera terakomodir menjadi ujaran-ujaran banyol yang penuh daya tarik komedi, menggerus seluruh aura komikal dan juga dramatik pentas menjadi sang “badut“ baru. Ada pula acara yang memakai essensi pemakaian ucap olah dialog sebagai nama acaranya, lalu di sana hadir laku-laku pemeranan yang meniru-niru gestikulasi serta mimik para bintang-bintang komedi. Seperti misalnya salah satu peserta yang maju ke depan lalu disuruh untuk menirukan ekspresi seorang bintang lawak, dan itu adalah dinamakan segmen “meniru tokoh“, dalam beberapa detik laku duplikasi psikis “keaktoran“ mereka ejawantahkan demi menghasilkan respon tawa dari para penonton yang hadir. Tentu sirkulasi uang yang bermain di sana memberikan efek yang sangat kuat agar para “aktor teater “ dalam acara tersebut mampu semaksimal mungkin membuat para hadirin yang hadir terpuaskan, pembebasan hasrat saling menghina yang kemudian raib dan hilang sesaat itu juga, tanpa impresi, tanpa pesan, hanya tawa.
Segmen meniru tokoh dalam hitungan detik merobohkan nilai-nilai kodrati dalam laku pemeranan teater yang sesungguhnya. Proses keaktoran teater membutuhkan sistematika yang sangat panjang dan juga kultur penghayatan tokoh dalam suasana kultus lenyap dan hilang hanya dengan satu acara televisi. Usaha-usaha pemuliaan seni acting yang dilakukan oleh aktor-aktor teater yang terkadang membutuhkan sedikitnya 3 bulan untuk menjadi dan mewadag dalam sebuah pemeranan dilibas dalam hitungan detik, siap untuk menggedor hasrat spontanitas tertawa anda, tertawa pada televisi, menertawai teater.
USAHA PANJANG YANG TERPUTUS
Ada usaha-usaha meniru pemahaman pertunjukan drama yang diletupi dengan aura-aura showbiz, atau show business. bagaimana kondisi pemakaian naskah/lakon yang merupakan salah satu perangkat teater mereka jadikan duplikasi televisual, kondisi-kondisi set drama realis mereka hadirkan dengan cabik-cabik slapstick yang dilapisi dengan ekspresi komikal juga improvisatoris. Maka hadirlah sebuah teater baru, sebuah masterpiece seni yang melenyapkan semua narasi panjang pergumulan konsepsi teater, yang mengganti semua piranti mazhab-mazhab teater ke dalam remeh-temeh acara yang berseliwer berlalu, lenyap sesaat.
Teater sendiri sebelumnya pernah terputus dalam usaha pemaknaannya kepada publik, ketika ditunggangi oleh oknum jurnalis yang dengan ketidakpahamannya menyimpulkan segala bentuk demonstrasi dengan spektakel “seram, hitam, berlumpur-lumpur“ adalah sebuah bentuk teatrikalisasi demo, ataupun hadirnya para bocah-bocah di jalan yang meminta uang sembari melumuri badannya dengan cat dianggap pula sebagai sebuah kesenian teater, akhirnya dengan usaha kuratif segigih mungkin para seniman teater berusaha mengembalikan hakiki teater ke dalam kondisi ontologisnya. Namun pembiasan pemahaman ini tidak bisa lagi diproteksi oleh para penggiat teater secara prosesial, apabila media televisi telah berinisiatif untuk menyatakan kondisi “teater“ versi mereka, televisi absah sebagai juru bicara teater di sini, merekalah publik relasi teater abad baru yang memperkenalkan teater dari ujung aceh hingga pelosok papua.
Usaha Alm.Suyatna Anirun dengan Studi Klub Teaternya yang telah membangun suprajaringan teater selama berpuluh tahun demi mengakrabkan masyarakat dengan teater kini punah dan lumer, teater akan dikategorisasi secara remeh sebagai selebrasi acting yang dapat mudah dilakukan semua orang untuk menghibur massa, mencari uang juga berlenggak-lenggok demi mendapatkan ketenaran paras dalam usaha percantikan tubuhnya di depan layar.
Perlu diberi apresiasi bahwa hari ini lahir begitu banyak seniman teater yang semakin sadar teks, mereka memperpanjang teater dengan sarana bahasa, filsafat juga budaya sebagai ornamentasi teater agar semakin optimal secara lingustik, visual bahkan lintas media. Namun apa mesti dikata, inilah kondisi aktual teater hari ini yang berkembang di benak massa, apa yang mesti dilakukan oleh panggung dengan prosesi estetik berbulan-bulannya menghadapI pemeranan selama 5 detik yang disebarluaskan secara serentak di televisi, apa yang ditawarkan teater menghadapi narasi besar industri.
Kiranya ini hanyalah gambaran luas bagaimana kehadiran televisi yang tidak kita sadari, tak tanggung-tanggung telah merangsek dan melucuti riwayat teater secara tiba-tiba. Lalu apakah masih teater akan bersikap steril dengan segala lalu lintas narasi virtual di sekitarnya, karena ternyata lambat laun berdiam, logos teater perlahan-lahan terebut, bermula dari sisi artifisial maju perlahan menggerogoti menuju sisi fundamennya.
* Mahasiswa Teater, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.
Sumber : http://mediateater.com/ketika-teater-ditafsir-televisi/
Senin, 05 Maret 2012
Bentara Pustaka: JURU TEMBANG DALAM NOVEL THE SINDEN
Halimah Munawir
Tidak sedikit karya fiksi Indonesia yang menghadirkan tokoh perempuan yang hidup di dalam kungkungan tradisi tertentu, berikut problematiknya terkait budaya patriarki yang dirasa tidak adil. Sebut saja sosok Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer, kisah penari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Sukreni Gadis Bali dari Panji Tisna, hingga pengarang-pengarang era kini semisal Saman dari Ayu Utami.
Pustaka Bentara kali ini mencoba membahas tentang novel The Sinden karya Halimah Munawir yang juga bercerita tentang Waranggana, sosok gadis juru tembang yang mumpuni. Si tokoh utama ini mengalami kehidupan yang terbilang tragis, di mana kepiawiannya menembang dan kecantikannya justru mengundang aneka peristiwa yang tak terduga, antara hendak dijadikan tumbal sebuah jembatan dan incaran sebagai istri kesekian dari para lelaki hidung belang.
Selain akan menguraikan kekuatan literer novel ini (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama) dibahas pula perihal keberadaan perempuan dalam perspektif sastra dan kenyataan sosial selama ini. Sebagai pembicara tampil Halimah Munawir dan I Made Sujaya.
Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Sejak SMA aktif menulis dan kemudian terjun ke jurnalistik sambil menimba ilmu di Filsafat Driyarkara. Sejak menikah dan sampai anak kedua berusia 5 tahun, ia aktif di Harian Indonesia. Semasa mahasiswa tergabung dalam Kelompok Studi Proklamasi yang kerap mengadakan diskusi dan menerbitkan buku-buku perihal agama dan masalah-masalah pembangunan. Tahun 1988, bersama suami, Munawir Anwar, meluncurkan buku Success Story Nilasari dan menerbitkan buku Fotobiografi Mbok Berek (2006). The Sinden adalah novelnya yang pertama, diselesaikan serta diterbitkan tahun 2011.
I Made Sujaya mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana dan IKIP PGRI Bali. Bekerja pula sebagai jurnalis di Harian Denpost. Pengamat sosial budaya dan kesenian Bali ini telah menerbitkan berbagai buku, antara lain Kuta Berdaya, Perkawinan Terlarang, Sepotong Nurani Kuta, dan sebagainya.
Tidak sedikit karya fiksi Indonesia yang menghadirkan tokoh perempuan yang hidup di dalam kungkungan tradisi tertentu, berikut problematiknya terkait budaya patriarki yang dirasa tidak adil. Sebut saja sosok Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer, kisah penari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Sukreni Gadis Bali dari Panji Tisna, hingga pengarang-pengarang era kini semisal Saman dari Ayu Utami.
Pustaka Bentara kali ini mencoba membahas tentang novel The Sinden karya Halimah Munawir yang juga bercerita tentang Waranggana, sosok gadis juru tembang yang mumpuni. Si tokoh utama ini mengalami kehidupan yang terbilang tragis, di mana kepiawiannya menembang dan kecantikannya justru mengundang aneka peristiwa yang tak terduga, antara hendak dijadikan tumbal sebuah jembatan dan incaran sebagai istri kesekian dari para lelaki hidung belang.
Selain akan menguraikan kekuatan literer novel ini (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama) dibahas pula perihal keberadaan perempuan dalam perspektif sastra dan kenyataan sosial selama ini. Sebagai pembicara tampil Halimah Munawir dan I Made Sujaya.
Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Sejak SMA aktif menulis dan kemudian terjun ke jurnalistik sambil menimba ilmu di Filsafat Driyarkara. Sejak menikah dan sampai anak kedua berusia 5 tahun, ia aktif di Harian Indonesia. Semasa mahasiswa tergabung dalam Kelompok Studi Proklamasi yang kerap mengadakan diskusi dan menerbitkan buku-buku perihal agama dan masalah-masalah pembangunan. Tahun 1988, bersama suami, Munawir Anwar, meluncurkan buku Success Story Nilasari dan menerbitkan buku Fotobiografi Mbok Berek (2006). The Sinden adalah novelnya yang pertama, diselesaikan serta diterbitkan tahun 2011.
I Made Sujaya mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana dan IKIP PGRI Bali. Bekerja pula sebagai jurnalis di Harian Denpost. Pengamat sosial budaya dan kesenian Bali ini telah menerbitkan berbagai buku, antara lain Kuta Berdaya, Perkawinan Terlarang, Sepotong Nurani Kuta, dan sebagainya.
Sabtu, 03 Maret 2012
Menulis Tanpa Pretensi Sebagai Terapi
Menulis Tanpa Pretensi Sebagai Terapi
oleh : Ine Febriyanti
Untuk kali pertama, pelaku seni peran Ine Febriyanti, menerbitkan tulisannya dalam sebuah buku. Ine tak sedang menjajal profesi baru sebagai penulis buku, apalagi beralih dari pilihan profesinya kini sebagai sutradara, penulis naskah film, dan pemain teater. Ia tergerak untuk menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, yang mengekspresikan pemikiran, perasaan, juga pengalaman melalui tulisan dan buku.
Buku berjudul 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan diterbitkan secara mandiri oleh komunitas dan penerbit Perempuan Bukan Penyair. Nama Ine tercantum di dalamnya, sebagai penulis, bersama enam perempuan urban lainnya dari berbagai latar belakang profesi. Satu tulisan Ine berjudul Misteri Panggung, di buku ini, merupakan perwujudan energi yang menggumpal dalam dirinya, selepas ia menuntaskan pementasan ulang monolog Surti pada Oktober 2011.
"Menulis itu terapi. Biasanya saya menulis jika sedang gelisah, marah, saat emosi tidak seimbang. Tulisan ini saya buat ketika saya akhirnya tampil di panggung teater setelah tujuh tahun vakum. Setelah menjalani proses persiapan pentas selama tiga bulan, lalu tampil dua hari, setelahnya saya merasa gelisah, masih banyak energi yang menggumpal dalam diri. Setelah menuliskannya, saya merasa lebih plong," tutur Ine kepada Kompas Female di sela peluncuran buku 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan di Tjikini Cafe, Jakarta, Rabu (15/2/2012) lalu.
Ine memang terbiasa menulis sejak belia. Ia selalu menulis dengan tangan menggunakan kertas dan pena, mengenai apa saja yang membuatnya gelisah. Tulisannya lebih kepada pengalaman personal yang tak pernah terpikirkan olehnya untuk diterbitkan. Tapi sekali ini, Ine merasa tergerak menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, demi mendorong perempuan lainnya untuk menulis saling memberikan inspirasi. Inspirasi bahwa perempuan juga punya ruang untuk menulis dan menerbitkan tulisannya melalui buku.
"Saya punya banyak tulisan seperti ini, tapi tidak untuk dipublikasikan," ungkap Ine yang tak lantas berpikir untuk menjadi penulis buku. "Saya bukan penulis buku, dan sebenarnya saya agak malu menerbitkan tulisan yang sangat personal ini. Saya merasa lebih baik menulis skenario. Namun, semangat teman-teman untuk menerbitkan buku mendorong saya melakukannya. Kita memang perlu mencari ruang apa yang tepat untuk menumpahkan energi. Menulis salah satunya," jelas Ine.
Seperti enam perempuan penulis lainnya, Ine menulis tanpa pretensi. "Tulisan saya lebih kepada kontemplasi, saya seperti bicara pada diri sendiri, tanpa pretensi apa pun," jelasnya. Meski begitu, nyatanya pilihan kata-kata Ine, memberikan inspirasi bagi orang lain dan ia pun mendapatkan apresiasi atasnya. Ia pun menemukan, apa pun yang Anda tuliskan boleh jadi orang lain akan merasakan hal yang sama. Pada akhirnya, apa yang Anda tuliskan menjadi inspirasi atau bahkan membuat orang lain berkontemplasi bersama tulisan Anda.
Beberapa kalimat dalam tulisan Ine yang mendapatkan apresiasi dan bisa menjadi inspirasi di antaranya: Dan ternyata kita membutuhkan "sinting" untuk dapat melakukan lompatan-lompatan kehidupan; Aku dilarang besar kepala. Besar kepala adalah jalan tercepat untuk menjadi bodoh dan tumpul. Tapi mungkinkah itu bagian dari sebuah pencapaian? Pujian, pujian? Kuharap tidak.
Tulisan tanpa pretensi dihasilkan Ine dari pengalaman pribadinya. Berasal dari konflik dalam dirinya, atas keputusannya kembali tampil di panggung teater setelah tujuh tahun tak bersentuhan dengan dunia teater. Tak mudah baginya melakukan monolog selama 1,5 jam, seorang diri memerankan 10 karakter. Namun inilah tantangan yang diambil seorang perempuan urban, untuk memberanikan diri kembali melakukan hal yang memang disukainya.
"Butuh keberanian lebih bagi ibu beranak tiga yang sudah lama tak tampil di panggung teater. Ada keraguan pada awalnya, namun karena rindu panggung, saya melakukannya," tutur Ine yang menceritakan (dalam bukunya) bagaimana ia menikmati misteri di panggung teater di pementasan monolog yang berujung pada kesuksesan, termasuk apresiasi positif dari penikmat seni teater.
Ine memang tak meninggalkan pesan apa pun melalui tulisannya. Namun melalui satu tulisan yang dibukukan bersama tulisan perempuan lainnya, Ine menjadi bagian dari perempuan urban dengan berbagai kisah dan pengalaman. Anda bisa menemukan sendiri berbagai pesan dan makan mendalam yang tersirat dalam tulisan tujuh perempuan ini.
oleh : Ine Febriyanti
Untuk kali pertama, pelaku seni peran Ine Febriyanti, menerbitkan tulisannya dalam sebuah buku. Ine tak sedang menjajal profesi baru sebagai penulis buku, apalagi beralih dari pilihan profesinya kini sebagai sutradara, penulis naskah film, dan pemain teater. Ia tergerak untuk menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, yang mengekspresikan pemikiran, perasaan, juga pengalaman melalui tulisan dan buku.
Buku berjudul 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan diterbitkan secara mandiri oleh komunitas dan penerbit Perempuan Bukan Penyair. Nama Ine tercantum di dalamnya, sebagai penulis, bersama enam perempuan urban lainnya dari berbagai latar belakang profesi. Satu tulisan Ine berjudul Misteri Panggung, di buku ini, merupakan perwujudan energi yang menggumpal dalam dirinya, selepas ia menuntaskan pementasan ulang monolog Surti pada Oktober 2011.
"Menulis itu terapi. Biasanya saya menulis jika sedang gelisah, marah, saat emosi tidak seimbang. Tulisan ini saya buat ketika saya akhirnya tampil di panggung teater setelah tujuh tahun vakum. Setelah menjalani proses persiapan pentas selama tiga bulan, lalu tampil dua hari, setelahnya saya merasa gelisah, masih banyak energi yang menggumpal dalam diri. Setelah menuliskannya, saya merasa lebih plong," tutur Ine kepada Kompas Female di sela peluncuran buku 7 Perempuan Urban Sebuah Catatan di Tjikini Cafe, Jakarta, Rabu (15/2/2012) lalu.
Ine memang terbiasa menulis sejak belia. Ia selalu menulis dengan tangan menggunakan kertas dan pena, mengenai apa saja yang membuatnya gelisah. Tulisannya lebih kepada pengalaman personal yang tak pernah terpikirkan olehnya untuk diterbitkan. Tapi sekali ini, Ine merasa tergerak menjadi bagian dari tujuh perempuan urban, demi mendorong perempuan lainnya untuk menulis saling memberikan inspirasi. Inspirasi bahwa perempuan juga punya ruang untuk menulis dan menerbitkan tulisannya melalui buku.
"Saya punya banyak tulisan seperti ini, tapi tidak untuk dipublikasikan," ungkap Ine yang tak lantas berpikir untuk menjadi penulis buku. "Saya bukan penulis buku, dan sebenarnya saya agak malu menerbitkan tulisan yang sangat personal ini. Saya merasa lebih baik menulis skenario. Namun, semangat teman-teman untuk menerbitkan buku mendorong saya melakukannya. Kita memang perlu mencari ruang apa yang tepat untuk menumpahkan energi. Menulis salah satunya," jelas Ine.
Seperti enam perempuan penulis lainnya, Ine menulis tanpa pretensi. "Tulisan saya lebih kepada kontemplasi, saya seperti bicara pada diri sendiri, tanpa pretensi apa pun," jelasnya. Meski begitu, nyatanya pilihan kata-kata Ine, memberikan inspirasi bagi orang lain dan ia pun mendapatkan apresiasi atasnya. Ia pun menemukan, apa pun yang Anda tuliskan boleh jadi orang lain akan merasakan hal yang sama. Pada akhirnya, apa yang Anda tuliskan menjadi inspirasi atau bahkan membuat orang lain berkontemplasi bersama tulisan Anda.
Beberapa kalimat dalam tulisan Ine yang mendapatkan apresiasi dan bisa menjadi inspirasi di antaranya: Dan ternyata kita membutuhkan "sinting" untuk dapat melakukan lompatan-lompatan kehidupan; Aku dilarang besar kepala. Besar kepala adalah jalan tercepat untuk menjadi bodoh dan tumpul. Tapi mungkinkah itu bagian dari sebuah pencapaian? Pujian, pujian? Kuharap tidak.
Tulisan tanpa pretensi dihasilkan Ine dari pengalaman pribadinya. Berasal dari konflik dalam dirinya, atas keputusannya kembali tampil di panggung teater setelah tujuh tahun tak bersentuhan dengan dunia teater. Tak mudah baginya melakukan monolog selama 1,5 jam, seorang diri memerankan 10 karakter. Namun inilah tantangan yang diambil seorang perempuan urban, untuk memberanikan diri kembali melakukan hal yang memang disukainya.
"Butuh keberanian lebih bagi ibu beranak tiga yang sudah lama tak tampil di panggung teater. Ada keraguan pada awalnya, namun karena rindu panggung, saya melakukannya," tutur Ine yang menceritakan (dalam bukunya) bagaimana ia menikmati misteri di panggung teater di pementasan monolog yang berujung pada kesuksesan, termasuk apresiasi positif dari penikmat seni teater.
Ine memang tak meninggalkan pesan apa pun melalui tulisannya. Namun melalui satu tulisan yang dibukukan bersama tulisan perempuan lainnya, Ine menjadi bagian dari perempuan urban dengan berbagai kisah dan pengalaman. Anda bisa menemukan sendiri berbagai pesan dan makan mendalam yang tersirat dalam tulisan tujuh perempuan ini.
Kamis, 23 Februari 2012
Novel "NUN"
NUN, sebuah novel WHANNY DARMAWAN.
Cerita tentang kekalahan dan pemberontakan IBU KUNTHI pada stigmatisasi diirinya sebagai perempuan. Juga masa lalunya yang pernah hitam, ditagih oleh sempalan dagingnya terbuang di masa depan, SUTAGANGGA. Sementara SUTAGANGGA sendiri berusaha berontak dari keadaan identitas dirinya yang gelap. Ia meyakini bahwa dirinya ada untuk kepentingan dharma. Lain itu tidak. Maka apapun yang terjadi ia berpegang pada pemahaman hak dan wajib. Benarkah dharma mengenal hak dan wajib?
Omahkebon Publishing. Tebal 253 halaman. Sistem penjualan pesan-kirim (Delivery order). Rp 50.000 + ongkir (menyesuaikan tujuan). Kontak akunt Omah Kebon atau Whanny Darmawan.
Cerita tentang kekalahan dan pemberontakan IBU KUNTHI pada stigmatisasi diirinya sebagai perempuan. Juga masa lalunya yang pernah hitam, ditagih oleh sempalan dagingnya terbuang di masa depan, SUTAGANGGA. Sementara SUTAGANGGA sendiri berusaha berontak dari keadaan identitas dirinya yang gelap. Ia meyakini bahwa dirinya ada untuk kepentingan dharma. Lain itu tidak. Maka apapun yang terjadi ia berpegang pada pemahaman hak dan wajib. Benarkah dharma mengenal hak dan wajib?
Omahkebon Publishing. Tebal 253 halaman. Sistem penjualan pesan-kirim (Delivery order). Rp 50.000 + ongkir (menyesuaikan tujuan). Kontak akunt Omah Kebon atau Whanny Darmawan.
Rabu, 15 Februari 2012
TARI POTREH KONENG
TARI POTREH KONENG
Tari ini merupakan tari kreasi dari anggota teater fataria, meskipun sepenuhnya tdk memiliki bakat Tari, hanya sedikit ada sisa bakat tari. akhirnya dengan semangat yang tersisa mereka latihan untuk menggarap dan menampilkan sebuah Tari. Tari ini merupakan tari pertama kalinya, mskpn sebelumnya pernah menggarap tari dengan menggabungkan dengan penggarapan pentas Teater. TARI POTREH KONENG ini dipentaskan di acara PENTAS STUDY dan DIES MAULIDIYAH TEater Fataria Tahun 2012.
LINK YOUTUBE TARI POTREH KONENG :
Tari ini merupakan tari kreasi dari anggota teater fataria, meskipun sepenuhnya tdk memiliki bakat Tari, hanya sedikit ada sisa bakat tari. akhirnya dengan semangat yang tersisa mereka latihan untuk menggarap dan menampilkan sebuah Tari. Tari ini merupakan tari pertama kalinya, mskpn sebelumnya pernah menggarap tari dengan menggabungkan dengan penggarapan pentas Teater. TARI POTREH KONENG ini dipentaskan di acara PENTAS STUDY dan DIES MAULIDIYAH TEater Fataria Tahun 2012.
LINK YOUTUBE TARI POTREH KONENG :
Minggu, 12 Februari 2012
PUISI DIQI
Sajak Rindu ke_7
Sayang,
Mendung semakin menebal
Setebal rinduku sederas arus
Dan sepertinya gerimis akan segera turun, serta gigil hatiku akan menemuimu dipenghujung subuh
Sembari menyuguhkan sajak rindu dimalam ketujuh
Sayang,
Mari heningkan hati
Meminta musim penghujan akan segara tiba
Karena setidaknya kau tahu rinduku selebat hujan sepanjang perjalanan musim
Gelegar Guntur itu
: rinduku bertalu
Pmk 18 sept 2011
KAU:
Dimataku kau bukan apapun
Bahkan kesejukan
Pun bara api pada tungku ibu dimasa lalu
;melainkan sesederhana mimpiku selama ini
Pmk 15 09 2011
REKAH
Segala anganku tak ubahnya kepingan asa dan sepotong kenangan saat kemarau menjelang
Lantaran slau auramu menelusup hingga celah kesadaranku
Hanya engkau yang mampu menjadikan titik itu menjadi garis terpanjang dalam hidupku
Bahkan jarak terjauh yang kau tunjuk, tampak jelas di hening matamu
_Sayu
Pmk 14 09 2011
SKETSA
Aku melihat biru telaga dikedalaman jernih retinamu
Mengajakku mengeja setiap helai aksara yang tertata serupa puisi
Ya,
Puisi rindu tanpa diksi
Akh,
Sebanarnya baitbait ini hanya pengatar saja bagi suatau yang yanga tak kau tahu adanya
Pada malam yang belm mampu terlampaui
Pmk 15 09 2011
SHIDDIQI merupakan ketua umum teater fataria 2011-2012 yang lahir di Sumenep sampai sekarang tetap aktif menulis karya sastra termasuk : Puisi, Naskah, Cerpen Dll.
Sayang,
Mendung semakin menebal
Setebal rinduku sederas arus
Dan sepertinya gerimis akan segera turun, serta gigil hatiku akan menemuimu dipenghujung subuh
Sembari menyuguhkan sajak rindu dimalam ketujuh
Sayang,
Mari heningkan hati
Meminta musim penghujan akan segara tiba
Karena setidaknya kau tahu rinduku selebat hujan sepanjang perjalanan musim
Gelegar Guntur itu
: rinduku bertalu
Pmk 18 sept 2011
KAU:
Dimataku kau bukan apapun
Bahkan kesejukan
Pun bara api pada tungku ibu dimasa lalu
;melainkan sesederhana mimpiku selama ini
Pmk 15 09 2011
REKAH
Segala anganku tak ubahnya kepingan asa dan sepotong kenangan saat kemarau menjelang
Lantaran slau auramu menelusup hingga celah kesadaranku
Hanya engkau yang mampu menjadikan titik itu menjadi garis terpanjang dalam hidupku
Bahkan jarak terjauh yang kau tunjuk, tampak jelas di hening matamu
_Sayu
Pmk 14 09 2011
SKETSA
Aku melihat biru telaga dikedalaman jernih retinamu
Mengajakku mengeja setiap helai aksara yang tertata serupa puisi
Ya,
Puisi rindu tanpa diksi
Akh,
Sebanarnya baitbait ini hanya pengatar saja bagi suatau yang yanga tak kau tahu adanya
Pada malam yang belm mampu terlampaui
Pmk 15 09 2011
SHIDDIQI merupakan ketua umum teater fataria 2011-2012 yang lahir di Sumenep sampai sekarang tetap aktif menulis karya sastra termasuk : Puisi, Naskah, Cerpen Dll.
NAAS-ER
NAAS-ER
NAAS-ER merupakan sebuah naskah tanpa dialog yang ditulis & digarap oleh GUGUK salah satu anggota teater fataria, Naskah ini memang mengisahkan sesuatu dalam diri manusia yang paling halus yaitu NURANI : Ketika segala kebajikan telah dimatikan berganti kebajikan yang semu. ketika rongga hati berganti ketidakpedulian,
Saling membenci lebih menjadi pilihan. Ketika apa yang dilakukan tidak lgi penuh dengan kebenaran, Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran. dan kekeakuan yang semakin tinggi, lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih. dan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Namun pada akhirnya terkadang mereka akan merindukan suara halus, samar-samar dalam dirinya yang akan membawa kepada kedamaian yang sebenarnya.
Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya.
Mengenai Ide Pengggarapannya Silahkan Download disini :
http://www.mediafire.com/?rb77c880rnd8jq5
Paswordnya : teara
Link Video Youtubenya disini :
NAAS-ER merupakan sebuah naskah tanpa dialog yang ditulis & digarap oleh GUGUK salah satu anggota teater fataria, Naskah ini memang mengisahkan sesuatu dalam diri manusia yang paling halus yaitu NURANI : Ketika segala kebajikan telah dimatikan berganti kebajikan yang semu. ketika rongga hati berganti ketidakpedulian,
Saling membenci lebih menjadi pilihan. Ketika apa yang dilakukan tidak lgi penuh dengan kebenaran, Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran. dan kekeakuan yang semakin tinggi, lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih. dan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Namun pada akhirnya terkadang mereka akan merindukan suara halus, samar-samar dalam dirinya yang akan membawa kepada kedamaian yang sebenarnya.
Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya.
Mengenai Ide Pengggarapannya Silahkan Download disini :
http://www.mediafire.com/?rb77c880rnd8jq5
Paswordnya : teara
Link Video Youtubenya disini :
Langganan:
Postingan (Atom)




















